Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Anak. Tampilkan semua postingan

Membantu Anak Bersikap Optimis

Para pembaca yang setia…hari ini saya akan mencoba berbagi pengalaman tentang bagaimana menghadapi anak yang selalu ‘apatis’ dalam menghadapi suatu kendala…, semoga bermanfaat ya..:)

Anak yang memiliki sikap apatis biasanya sering mengatakan kalimat-kalimat negatif, seperti ‘Nggak bisa, tidak tahu, tidak mau,’ sebelum ia sendiri berusaha untuk mencobanya. Anak seperti tersebut selalu merasa tidak percaya diri dan khawatir terhadap kemampuan dirinya.

Salah satu penyebab timbulnya sikap apatis pada anak boleh jadi akibat perlakuan dari orang yang terdekat dengan anak, orangtua. Orangtua yang selalu memberikan penjagaan atau perlindungan secara berlebihan dapat membuat anak menjadi semakin ketergantungan dan selalu berharap ada orang lain dapat membantunya.

Tidak Ada Anak 'Bodoh'

Anak yang memiliki nilai kurang dalam suatu mata pelajaran misalnya matematika atau bahasa, belum tentu ia 'kurang' dalam hal lain. Hindarkan tergesa-gesa mencap 'bodoh' pada anak. Menurut teori gardner 1983, pada diri anak terdapat kemampuan lain yang dapat digali oleh pendidik (orangtua dan guru) yaitu, kecerdasan bahasa, matematika, kinestetik, musik, spasial, intrapersonal, interpesonal, dan naturalis.


Di bawah ini adalah beberapa upaya yang dapat orangtua atau guru lakukan untuk menggali kemampuan kecerdasan anak, yaitu:

Memiliki Anak Cerdas adalah Dambaan Setiap Orangtua

Hanya mengharapkan tanpa mau mendukung atau mengusahakan dengan sungguh-sungguh adalah sesuatu yang sulit untuk dicapai. Seperti halnya yang terjadi pada sebagian banyak orangtua. Mereka pada umumnya hanya mengharapkan anak mereka tumbuh dengan cerdas tanpa mau mendukung dan mengusahakan supaya anak tersebut mampu meraih harapan tersebut. Hal seperti itu tentu akan sulit terealisasikan apalagi jika ditambah dengan sikap orangtua yang selalu membanding-bandingkan antara anak mereka dengan anak orang lain yang lebih baik tingkat kecerdasannya.

Sikap orangtua yang selalu membanding-bandingkan seperti di atas adalah tentu tidak bijaksana. Sikap seperti itu tidak akan mampu mebuat anak menjadi lebih kreatif dan lebih cerdas, tetapi mungkin sebaliknya justru tindakan orangtua seperti itu hanya akan membuat anak semakin tertekan, tidak percaya diri, merasa diri semakin tidak mampu, dan ia pun akan semakin tidak bersemangat untuk menunjukkan kepada orangtua dan lingkungannya bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang lebih baik.

Semua Anak Adalah Istimewa

Oleh: Yusi Elsiano Rosmansyah

Setiap anak terlahir dengan kelebihannya masing-masing. Orangtua yang mengatakan bahwa anak mereka adalah tidak memiliki keistimewaan, itu tentu tidak benar. Orangtua seperti itu berarti belum mampu melihatnya. Sebab, keistimewaan anak bukan hanya dilihat dari sisi kemampuan akademiknya saja. Tidak selamanya anak istimewa itu harus pintar matematika, bahasa inggris, atau ilmu kimia. Anak yang senang menyayangi binatang, anak yang patuh, atau anak yang selalu menebar senyum sehingga mampu menyejukkan setiap orang yang memandangnya juga adalah termasuk istimewa.

Cara Bijak Memberi Hukuman dan Hadiah Kepada Anak

Mendidik dengan memberikan hukuman secara fisik karena anak telah melakukan suatu kesalahan dan memberikan hadiah berupa uang atau makanan karena anak telah melakukan suatu tindakan positif adalah tindakan yang kurang bijaksana. Hukuman fisik dianggap tidak efektif sebagai cara untuk mendidik anak karena dengan cara seperti itu sebenarnya anak tidak memahami di mana letak kesalahannya tersebut. Anak tidak melakukan lagi kesalahannya tersebut boleh jadi bukan karena ia memahami bahwa tindakannya tersebut adalah tidak baik tetapi ia tidak melakukan kesalahan tersebut karena ia takut akan mendapatkan hukuman lagi yang mungkin lebih berat. Maksudnya, anak mungkin tidak melakukan kesalahan tersebut ketika pengawas (orangtua) ada di sekitarnya, tetapi ketika pengawasnya tidak ada di dekatnya maka ia mungkin akan mengulangi kesalahannya tersebut, misalnya memukul lagi adiknya.

Beberapa Hal yang Dapat Mempengaruhi Janin

Menyaksikan buah hati terlahir dengan mulus dan dapat tumbuh dengan maksimal adalah kebahagiaan orangtua yang tak terhingga nilainya. Orangtua akan bahagia apabila menyaksikan buah hatinya bahagia, sehat dan cerdas. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua. Demikianlah kalimat yang sering dilontarkan para orang tua. Orangtua mana yang tidak bahagia apabila dititipi anak oleh Yang Maha Kuasa dengan kondisi yang sehat lahir batin, mulus, dan dapat tumbuh dengan maksimal.

Manusia memang tidak dapat menawar takdir yang telah diberikan oleh-Nya. Namun, adalah penting bagi para orangtua untuk selalu berusaha semaksimal mungkin mengupayakan supaya anak yang terlahir adalah sehat dan mulus. Misalnya untuk ibu yang hamil dan menyusui dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, menjaga kandungan dengan baik, dan tidak mengkonsumsi obat-obatan, rokok, dan alkohol.

Pentingnya Pengasuhan yang Baik Untuk Anak

Anak yang berbudi baik, cerdas, bertanggung jawab, dan disiplin bukan hanya karena faktor keturunan saja (diturunkan melalui gen orangtuanya), kecerdasan dan kepribadian anak tersebut dipengaruhi juga oleh lingkungan. Tanpa ada rangsangan dari lingkungan disekitarnya, maka anak tidak akan tumbuh dengan maksimal. Maksudnya, anak yang terlahir dari kalangan orang-orang terhormat dan cerdas belum tentu akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berkepribadian baik (terhormat) jika anak tersebut diasuh oleh orang yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Begitu juga anak yang terlahir dari kalangan orang yang suka mencuri belum tentu anak tersebut menjadi seorang pencuri jika ia diasuh oleh orang atau dibesarkan di dalam lingkungan yang orang-orangnya berkepribadian baik.

Memerhatikan Anak Merupakan Salah Satu Bukti Orangtua Menyayangi Anak

Anak adalah proyek orangtua seumur hidup. Orangtua yang berhasil ‘mengelola’ anak dengan baik maka cepat atau lambat akan merasakan hasilnya, tenang dan bahagia menjalani hidup ini baik ketika anak masih kecil maupun ketika anak sudah beranjak dewasa dan orangtua pun menjadi semakin tua. Anak akan tumbuh sesuai dengan harapan orangtuanya, berbakti kepada orangtua, bertanggung jawab, disiplin, dan dapat dipercaya.

Mengharapkan anak tumbuh menjadi seseorang yang baik tentu tidak bisa instan. Perlu ‘sentuhan’ orangtua. Supaya orangtua dapat mengarahkan anak menjadi lebih baik maka orangtua perlu berusaha untuk mengenali, merasakan, serta mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam benak dan hidup anak terlebih dahulu. Salah satu caranya adalah dengan cara 'memerhatikan' anak. Berikanlah anak perhatian misalnya dengan mengajak ia berbicara, mendengarkan apa yang ingin ia bicarakan, dan memujinya ketika ia melakukan suatu hal yang positif. Salah satu manfaat memberikan perhatian kepada anak adalah membuat anak merasa senang sehingga ia termotivasi untuk mengulanginya kembali tindakan positif tersebut, dan bahkan mengulangi tindakan positif tersebut kepada kita (orangtua).

Pentingnya Mengajarkan Tanggung Jawab Kepada Anak

Memerhatikan sikap orangtua terhadap anak di lingkungan sekitar kita, ada di antara mereka yang membuktikan bahwa orangtua sangat menyayangi anak mereka dengan cara membiarkan anak melakukan apa saja yang ia inginkan dan tidak memberikan tanggung jawab apapun kepadanya.

Misalnya, dengan adanya pembantu rumah tangga maka orangtua membebaskan anak mereka lepas dari tanggung jawabnya. Orangtua membiarkan anak tidak membereskan mainan bekas ia bermain, meninggalkan tempat tidur dan buku-buku yang berantakan, menyimpan begitu saja piring atau gelas bekas ia pakai di meja makan atau di kamar tidurnya, dan tanpa kontrol anak bebas menggunakan uang.

Menangani Anak yang Pemalu

Ada sebagian anak apabila bertemu dengan banyak orang dan baru saja ia kenal maka ia akan merasa sangat tersiksa. Anak seperti ini tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap dan berucap kepada orang-orang 'baru' tersebut. Biasanya, ia akan lebih memilih untuk diam dan sedikit beraktivitas.

Anak yang pemalu pada umumnya lebih bergantung kepada orangtua. Apabila ada orang yang ingin bertanya kepadanya maka ia akan mengalami kesulitan dalam menjawab. Ia cenderung mengandalkan orangtua yang menjawab semua pertanyaan yang sebenarnya untuk dirinya. Semakin banyak orang yang tidak ia kenal berada di dekatnya maka anak akan semakin merasa takut dan bingung.

Menyikapi Masalah Ejekan Anak

Setidaknya ada dua hal yang dapat membuat orangtua akan merasakan kesedihan yang sama, yaitu memiliki anak yang suka diejek dan yang suka mengejek. Memiliki anak yang suka diejek, orangtua manapun pasti akan merasa sedih bila tahu bahwa kekurangan yang ada pada diri anak mereka sering diejek oleh orang lain.

Memberikan nasehat atau kritik kepadanya adalah bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Sebagai salah satu upaya untuk meringankan kesedihan yang dirasakan oleh anak, orangtua dapat menghiburnya dengan meyakinkan kepada anak bahwa mereka akan tetap mencintai dirinya apapun adanya. Selain itu, orangtua juga dapat membantu mengatasi masalah ejekan ini dengan cara ikut memikirkan respon apa yang perlu dilakukan atau diucapkan oleh anak apabila suatu saat ia diejek kembali oleh temannya. Dengan demikian, anak akan merasa tenang, bahagia, dan tetap percaya diri.

Mengapa Anak Selalu Ingin ‘Nempel’ Terus?

Mungkin kita sering melihat anak yang selalu ingin ‘nempel’ kepada orangtuanya. Ke mana saja orangtua bergerak ia akan terus mengikuti mereka. Sekalipun orangtuanya hanya pergi ke toilet, ia selalu ingin ikut. Perilaku anak seperti ini tentu akan membuat anak dan orangtua merasa tidak nyaman. Dengan sikapnya seperti itu, lama-lama orangtua mungkin akan merasa sangat terikat dan tidak bisa mengerjakan pekerjaan dengan cepat. Begitu juga dengan anak, ia akan sangat ketergantungan kepada orangtuanya, ia tidak percaya kepada orang lain sehingga ia akan sangat sedih dan merasa ketakutan ketika ia menyadari bahwa ia terpisah dengan orangtuanya.

Memahami Perilaku Anak Remaja

Oleh: Yusi E Rosmansyah

Masa remaja dapat dikatakan sebagai masa yang 'tanggung'. Maksudnya, anak tersebut adalah bukan lagi anak yang masih kecil, tetapi juga bukan orang yang sudah dewasa. Oleh karena itu, adalah wajar apabila sesekali anak remaja melakukan suatu tindakan yang kekanak-kanakan. Hal yang paling penting orangtua lakukan untuk mendukung anak tumbuh menjadi orang dewasa adalah bersikap bijaksana. Yaitu, tidak menghina atau melecehkan anak ketika ia melakukan tindakan yang kekanak-kanakan.

Mendukung Akan Lebih Baik Daripada Harus Kehilangan Anak

Semua orangtua tentu ingin calon pendamping yang dikenalkan oleh anak mereka adalah sesuai dengan harapan semua fihak. Maksudnya, antara harapan anak dengan orangtua terhadap calon pendampingnya tersebut adalah sama. Misalnya, tidak hanya menilai calonnya tersebut dari sisi fisiknya saja atau dari sisi materinya saja, tetapi idealnya adalah penting menilai diri seseorang tersebut berdasarkan hasil akhir secara keseluruhan untuk jangka panjang.

Melatih Anak Bersikap Tanggung Jawab

Oleh: Yusi E Rosmansyah

Mengajarkan anak untuk meminta maaf ketika ia melakukan suatu kesalahan adalah tindakan yang sangat penting. Dengan demikian berarti orangtua telah mendidik anak untuk bersikap tanggung jawab terhadap apa yang telah ia lakukan. Misalnya, ketika anak melakukan suatu kesalahan memukul adiknya atau menyenggol makanan milik teman hingga jatuh. Maka, sebaiknya orangtua berusaha supaya anak segera meminta maaf kepada adik atau temannya tersebut.

Mengajarkan Tanggung Jawab Kepada Anak dengan Cara Bijak

Memberikan tugas kepada anak untuk melakukan suatu pekerjaan rumah adalah tidak salah. Dengan demikian, anak dapat belajar bagaimana hidup saling menolong, bertanggung jawab, dan bersikap empati. Namun, dalam praktiknya tentu tugas yang dibebankan kepada anak harus disesuaikan dengan kemampuan, kondisi, dan usia anak.

Membebani terlalu banyak pekerjaan kepada anak adalah tidak benar. Apalagi, jika pekerjaan tersebut sebenarnya adalah tugas dan tanggung jawab orangtua. Misalnya, sementara anak disuruh mengerjakan pekerjaan rumah atau menjaga toko di rumah, orangtua malah pergi bersama teman-teman ke tempat perbelanjaan, arisan, dan bahkan hanya sekedar kumpul-kumpul.

Cara Membahagiakan Anak

Oleh: Yusi Elsiano Rosmansyah

Banyak orangtua yang mengatakan bahwa tidak ada keinginan lain atas anak mereka kecuali melihat dan membuatnya hidup bahagia. Namun untuk mewujudkan satu keinginan tersebut beberapa orangtua tidak tahu bagaimana seharusnya mereka bertindak kepada anak.

Memberikan kepuasan materi kepada anak secara berlebihan adalah bukan cara yang baik untuk

Manfaat Memberikan Kesempatan Bermain Kepada Anak

Bermain dengan mainan adalah aktivitas yang disukai oleh anak. Dengan bermain biasanya anak akan merasa terbebas dari perasaan jenuh dan lelah. Oleh karena itu, untuk menciptakan kembali energi atau semangat baru kepada anak yang mungkin telah menurun akibat kesibukan belajarnya atau mengerjakan sesuatu hal lainnya. Maka memberikan kesempatan kepadanya untuk bermain adalah tindakan yang baik.

Adalah penting orangtua memilihkan dan menyediakan mainan yang mendidik untuk anak. Sehingga, mainan tersebut bukan hanya sekedar memberikan kesenangan atau memuaskan hati anak saja. Tetapi, juga dapat memberikan banyak pengalaman dan ilmu pengetahuan kepadanya. Misalnya, dengan mainan tersebut anak dapat juga belajar tentang warna, mengenal suara berbagai macam binatang, belajar huruf, angka, atau belajar mengelompokkan dan membedakan jenis benda (yer).

Orangtua Bersikap Kepada Anak yang Sudah Menikah

Di kalangan orangtua, sebagian dari mereka ada yang merasa khawatir, takut, sedih, dan bahkan merasa kehilangan ketika anak mereka mulai hidup baru dengan pasangannya. Orangtua seperti ini mungkin saja akan merasa bahwa pasangan anak (menantu) telah mengambil anak mereka. Orangtuapun merasa bahwa mereka tidak bisa memiliki anaknya lagi. Dengan demikian, orangtuapun terkadang merasa bahwa anak mereka sudah tidak mungkin lagi dapat diajak ‘bicara’ seperti sebelumnya.

Membantu Anak Agar Terhindar Dari Sikap Malas

Dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya terkadang anakpun mengalami situasi malas seperti halnya orang dewasa. Namun, sikap bermalas-malasan ini tentu tidak baik apabila dibiarkan terus-menerus. Sebab, khawatir akan membuatnya menjadi terbiasa bersikap malas dalam segala hal.